Friday, January 22, 2016

makalah teknik pengasapan ikan bawal

BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Ika merupaka salah   satu   sumbe protein   hewani   yan banyak dikonsumsi masyarakat, mudah didapat, dan harganya murah. Pada tahun 2011, capaian sementara rata-rata konsumsi ikan per kapita nasional adalah 31,64 kg/kapita. Rata-rata konsumsi ikan per kapita nasional pada tahun 2011 meningkat sebesar 3,81 persen apabila dibandingkan dengan rata-rata konsumsi ikan per kapita nasional pada tahun 2010, yakni sebesar 30,48 kg/kapita.
Ikan banyak mengandung unsur organik dan anorganik, yang berguna bagi manusia.   Namun   ikan   jug cepa mengalami   proses   pembusuka setelah ditangkap dan mati. Ikan perlu ditangani dengan baik agar tetap dalam kondisi yang layak dikonsumsi oleh masyarakat. Ikan yang tidak diawetkan hanya layak untuk   dikonsumsi   dalam   waktu   sehari   setelah   ditangkap.   Berbagai   cara pengawetan  ikan  telah  banyak  dilakukan,  tetapi  sebagian  diantaranya  tidak mampu   mempertahanka sifat-sifa ikan   yang   alami.   Salah   sat cara mengawetkan ikan yang tidak merubah sifat alami ikan adalah pendinginan dan pembekuan.  Pengawetan  ikan  secara  tradisional  bertujuan  untuk  mengurangi kadar air dalam tubuh ikan, sehingga tidak memberikan kesempatan bagi bakteri untuk berkembang biak. Adapun komposisi kandungan ikan sebagai berikut:
Tabel 1. Komposisi Kimia Ikan 
No
Kandungan
Besaran (%)
1
Protein
16 – 24
2
Lemak
0,2 – 2,2
3
Air
56 - 80
4
Minera (Ca Na K,   J Mn),
Vitamin (A, B, D) dll
2,5 – 4,5
Sumber: Susanto, 2006.

Pengasapan ikan adalah salah satu cara mengolah dan mengawetkan ikan yang cukup popular di Indonesia. Cara ini dapat dijumpai di berbagai daerah, namun jumlahnya tidak sebanyak produk pengasinan atau pengeringan. Pengasapan dapat menunda proses kemunduran mutu ikan, namun dalam waktu yang tidak terlalu lama, tidak seperti ikan asin atau ikan kering.
Dari asap, ikan menyerap zat-zat seperti aldehid, fenol dan asam-asam organik yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik) dan membunuh bakteri (bakterisidal). Kelompok aldehid yang mempunyai daya sterilisasi paling kuat adalah formaldehid. Suatu penelitian mengenai dampak sterilisasi dari pengasapan mengungkapkan bahwa bakteri yang tidak membentuk spora seperti Bacterium proteus vulgaris atau Staphylococci, adalah kurang tahan terhadap asap dan dapat dibasmi dengan pengasapan singkat. Sementara bakteri yang membentuk spora seperti Bacillus subtilis dan  B. mesentericus mempunyai ketahanan yang lebih besar.
Akan tetapi jumlah zat yang bersifat bakteriostatik atau bakteriosidal  yang  dapat  diserap  hanya  sedikit  sekali,  maka daya pengawetannya sangat terbatas. Oleh karena itu, pengawetan dengan pengasapan harus diikuti dengan cara pengawetan lainnnya, terutama ikan asap akan disimpan dalam waktu relatif lama.

1.2   Rumusan Masalah
Pendistribusian  ikan  yang  tidak  merata  merupakan  salah  satu  masalah yang masih dihadapi pada umumnya, di Indonesia. Jarak yang jauh antara pusat produsen dengan pusat konsumen menjadikan pengolahan dan pengawetan ikan mempuyai  prospek  untuk  dikembangkan.  Sehinggperumusan  masalahnya sebagai berikut: Jenis pengawetan ikan apa saja yang dapat dilakukan, agar ikan dapat sampai ke tangan konsumen tanpa mengalami pembusukan. Bagaimana hasil yang optimum dari cara pengawetan ikan secara   pengasapan (smoking) dan pemanggang (roasting).

1.3  Tujuan                
Adapun tujuan penulisan makalah ini untuk mengetahui bagaimana proses pengawetan ikan dengan cara pengasapan dan faktor apa saja yang menentukan keberhasilan proses pengasapan ikan bawal.



BAB II
METODE


2.1 Bahan Dan Alat
Bahan baku  yang digunakan  dalam penelitian  ini adalah ikan bawal, garam, asap cair, serbuk kayu, silica gel, air, vaselin.
Peralatan  yang  digunakan  dalam  penelitian  ini  antara  lain  smoke cabinet,vacuum sealer, hand sealer, eksikator,timbagan analitik, gelas beker 500ml, gelas ukur 100ml, baskom, peniris,pisau, sendok, serbet, plastik, tissue

2.2 Proses Pengasapan
Dalam proses pengasapan ikan pada prinsipnya terdapat beberapa   proses   pengawetan   ikan    yaitu:   penggaraman, pengeringan, pemanasan dan pengasapan
1. Perlakuan pendahuluan
Ikan   yang   akan   diasapi   terlebih   dahulu   disortir menurut jenis, ukuran dan mutu kesegarannya. Selanjutnya, harus dibersihkan dari kotoran yang dapat mencemari produk, dengan cara dicuci dengan air bersih dan disiangi (dikeluarkan isi perut dan insangnya). Persyaratan bahan baku ikan asap sebaiknya sesuai SNI 2725.2:2009.
2. Penggaraman
Ikan   yang   sudah   bersih   atau   sudah   mengalami perlakuan  pendahuluan  (sudah  dicuci  dan  disiangi) dilakukan proses penggaraman. Penggaraman ini dapat dilakukan  baik   dengan   cara  penggaraman  kering  (dry salting) maupun penggaraman dengan larutan garam (brine salting).  Penggaraman  ini  menyebabkan  terjadinya penarikan air dan penggumpalan protein dalam daging ikan sehingga mengakibatkan tekstur ikan menjadi lebih kompak. Pada konsentrasi yang agak tinggi, garam dapat menghambat perkembangan bakteri dan perubahan warna Di samping hal tersebut, garam juga  memberikan flavor, tetapi  kemurnian  dan  kepekatan  garam  yang  digunakan harus benar-benar terkontrol.

3. Pengeringan
Setelah penggaraman dan pencucian dengan air tawar, selanjutny dilakukan   tahap   pengeringan   yait untuk menghilangkan sebagian air sebelum proses pengasapan. Proses pengeringan ini sangat menentukan kekompakan atau kekenyalan produk asap. Jika daging ikan yang sangat basah langsung diasapi tanpa dilakukan pengeringan maka banyak kandungan dari permukaan ikan yang akan menguap dan terjadi destilasi. Produk destilasi dari pembakaran kayu yang utama adalah bahan semacam tar dan akan menempel pada permukaan ikan, sehingga air permukaan ikan berwarna cokelat tua gelap dan jelek Untuk mengatasi fragmentasi (kerapuhan) pada ikan asap perlu dilakukan pengeringan selama 1 jam pada suhu 25 oC dan kelembaban relatif 40-50 persen sebelum diasap dapat  mengurangi  kelembaban  ikan  sampai  50  persen. Selain itu, penanganan yang berlebihan selama pengasapan turut berkontribusi pada kerapuhan ikan asap.
Pengeringan dapat dilakukan dengan cara menggantung  ikan  di  atas  rak-rak  pengering  di  udara terbuka. Hal ini dapat dilakukan pada kondisi iklim yang kelembaban nisbihnya rendah. Akan tetapi, bila iklim setempat mempunyai kelembaban yang tinggi hingga proses pengeringan menjadi lambat, maka tahap pengering harus dilakukan dalam lemari-lemari pengering
4. Penataan
Penataan ikan diatur sedemikian rupa dalam ruang pengasapan bertujuan untuk mendapatkan aliran asap dan panas yang merata di mana hal ini sangat menentukan kualitas produk akhir. Untuk mendapatkan aliran asap dan panas yang merata, jarak antara ikan-ikan pada rak pengasap dan  jarak  antara  masing-masing  rak  pengasapan  dalam ruang pengasapan tidak boleh terlalu rapat.
5.  Pengasapan
Tujuan pengasapan dalam pengawetan ikan adalah untuk  mengawetkan  dan  memberi  warna  serta  rasa  asap yang khas pada ikan. Sebenarnya, daya awet yang ditimbulkan oleh asap sangat terbatas, sehingga supaya ikan dapat tahan lama maka harus diikuti atau didahului oleh cara pengawetan lain. Pengasapan  juga  bertujuan  untuk  mengeluarkan  uap dari unsur-unsur senyawa fenol atau aldehid dari jenis kayu yang dilekatkan pada tubuh ikan atau untuk memasukkan unsur-unsur tersebut ke dalam tubuh ikan sehingga menghasilkan  rasa  dan  aroma  yang  khas,  serta mengeringkan ikan sehingga didapat efek pengawetan yang diharapkan. Rasa lezat yang menjadi ciri khas produk ikan yang  diasap,  terutama  dari  senyawa  fenol  dan  aldehid.
6.  Pendinginan dan Pengemasan
Proses pengasapan pada umumnya diakhiri dengan tahap pendinginan dan pengemasan. Setelah selesai tahap pengasapan, produk disimpan dalam ruangayang bersih dan dibiarkan sehingga mencapai suhu ruang, kemudian dilaksanakan pengemasan. Pengemasan dapat digunakan plastik polietilen dan untuk memperpanjang umur simpanan produk dapat dilakukan pengemasan hampa udara.
Penjelasan dari Sveinsdottir (1998), bahwa sebelum pengemasan, ikan harus didinginkan, pada saat itu banyak uap air menguap. Jika ikan dikemas ketika sedang hangat, uap air akan mengembun di permukaan dan mendorong pertumbuhan  jamur.  Kemasan  merupakan  bagian  penting dari pengolahan  makanan  karena mefasilitasi  penanganan selama penyimpanan dan distribusi dalam rantai pemasaran. Bahan kemasan harus memiliki karakteristik tertentu, seperti kekuatan yang memadai untuk melindungi produk yang dikemas dari kerusakan, harus siap tersedia dan mudah digunakan, dan harus bersih untuk mencegah kontaminasi oleh zat yang tidak diinginkan.







BAB III
PEMBAHASAN


3.1  Pengawetan Ikan dengan Pengasapan
Pengasapan dapat digunakan sebagai alternatif pengawetan  ikan  secara  tradisional  selain  penggaraman,  pengeringan, pemindangan dan fermentasi. Cara pengolahan tradisional lebih dominan dari pada cara pengolahan modern seperti pembekuan dan pengalengan. Menurut terminologi FAO, ikan olahan tradisional, atau cured fish” adalah produk yang diolah  secara  sederhana  dan  umumnya  dilakukan  pada  skala  industri  rumah tangga. Jenis olahan yang termasuk produk olahan tradisional ini adalah ikan kering atau asin kering, ikan pindang, ikan asap serta produk fermentasi yaitu kecap, peda, terasi dan sejenisnya (Heruwati, 2002).
Pengasapan  adalah  cara  pengawetan/pengolahaikadengan menggunakan   asa yang  berasal   dari   hasil   pembakaran   arang  kay atau tempurung kelapa, sabut, serbuk gergaji atau sekam padi. Dalam hal ini dalam asap terkandung senyawa-senyawa yang mempunyai sifat mengawetkan, seperti senyawa phenol, formaldehyde dan lain-lain (Anonim, 2011). Asap terbentuk karena  pembakaran  yang  tidak  sempurna,  yaitu  pembakaran  dengan  jumlah oksigen  yang terbatas.  Pengasapan  ikan  dilakukan  dengan  tujuan  :  1).  Untuk mengawetkan ikan (banyak dilakukan di negara-negara yang belum atau sedang berkemban denga memanfaatka bahan-baha alam   berupa   kay yang melimpah dan murah),  2). Untuk memberikan rasa dan aroma yang khas (Murniyati, 2000).  Sebenarnya asap sendiri daya pengawetnya sangat terbatas (yang tergantung pada lama dan ketebalan asap), sehingga agar ikan dapat tahan lama, pengasapan harus dikombinasikan dengan cara-cara pengawetan lainnya, misalnya penyimpanan pada suhu rendah. Menurut perkiraan FAO, 2% dari hasil tangkapan ikan dunia diawetkan dengan cara pengasapan, sedangkan di negara-negara tropis jumlahnya mencapai 30% (Anonim, 2007).
Suhu yang digunakan untuk pengasapan panas cukup tinggi sehingga daging ikan menjadi matang.  Daya awet ikan yang diasap panas, ditimbulkan oleh garam, asap dan panas. Sedangkan pada ikan yang diasap dingin, ditimbulkan oleh garam, asam dan pengeringan.
Hasil proses pengasapan dan pemanggangan dapat dilihat pada perubahan warna ikan. Proses roasting menghasilkan warna coklat pucat, sedangkan proses smoking menghasilkan warna coklat mengkilap. Faktor-faktor yang berpengaruh pada proses pengasapan dan pemanggangan pada orientasi ini diantaranya: a). berat ikan, b). penirisan dan penganginan, c). suhu,d). waktu, e). metode pengemasan,dan f). kondisi penyimpanan.

3.2 Keberhasilan Proses Pengasapan Ikan
Tingkat    keberhasilan    proses    pengasapan    ikan tergantung pada empat faktor utama (selain bahan baku) yang saling berkaitan, yaitu: mutu dan volume asap; suhu dan kelembaban ruang pengasapan;suhu dan lama pengasapan serta sirkulasi udara dalam ruang pengasapan.
1.   Mutu dan Volume Asap
Mutu dan volume asap yang dihasilkan tergantung pada jenis kayu yang digunakan dalam proses pengasapan. Untuk mendapatkan mutu dan volume asap sesuai yang diharapkan, sebaiknya digunakan jenis kayu yang keras (non-resinous) seperti kayu bakau, rasa mala, serbuk dan seratan kayu jati serta tempurung kelapa sebagai bahan bakar. Dengan kata lain, jenis kayu yang digunakan sebagai sumber asap sebaiknya memenuhi syarat, yaitu: keras, tidak mudah/cepat terbakar  Untuk  menghasilkan  ikan  asap  bermutu  tinggi sebaiknya  digunakan  jenis  kayu  yang mampu  menghasilkan asap dengan kandungan unsur fenol dan asam organik yang cukup  tinggi,  karena  kedua  unsur  ini  lebih  banyak  melekat pada  tubuh  ikan  dan  dapat  menghasilkan  rasa  dan  warna daging asap yang khas.
2.   Suhu dan Kelembaban Ruang Pengasapan
Kondisi ruang pengasapan juga sangat menentukan mutu ikan asap. Ruangan yang baik digunakan untuk tempat pengasapan ikan adalah ruangan yang memiliki suhu dan kelembaban udara cukup rendah. Banyaknya uap air yang diserap oleh udara tergantung suhunya, jadi bila udara cukup dingin 30 oC dipanasi maka kapasitas pengeringan akan lebih tinggi. Dalam keadaan lembab, udara jenuh yang telah panas tidak dapat dipanasi lagi secara cepat untuk mengurangi kandungan uap airnya dan oleh karena itu, kapasitas menurun. Jika suhu ruangan pengasapan cukup rendah, asap yang dihasilkan lebih ringan jika dibandingkan dengan asap yang dihasilkan dari proses pengasapan di udara terbuka (bersuhu relatif lebih tinggi). Dengan demikian, volume asap yang dapat melekat pada tubuh ikan  menjadi lebih banyak  dan merata. Apabila proses pengasapan ikan berlangsung dalam ruangan bersuhu tinggi, permukaan kulit atau tubuh bagian luar akan menjadi cepat kering atau mengeras (dapat menghalangi proses penguapan cairan yang terdapat pada bagian tubuh yang lebih.
3. Suhu dan Waktu  Pengasapan
Menurut  Rasco  (2009),  metode  pengasapan  panas  pada ikan memerlukan 2 proses berurutan yaitu pengasapan diikuti oleh pemasakan. Lama waktu pengasapan tergantung pada flavor dan kelembaban yang diinginkan. Pengasapan kurang lebih 2 jam pada suhu 90 oF (32,2 oC), kemudian panas ditingkatkan sampai 150 atau 160 oF ( 65,5 oC) dan dimasak selama 30 menit. Hal tersebut dilakukan untuk menguapkan uap air dalam ikan dan menghindari keretakan produk dan memperpanjang daya simpan.
4.   Sirkulasi  Udara  Dalam Ruang Pengasapan
Adany sirkulasi   udara   yang   baik   di   dalam   ruang pengasapan menjamin mutu ikan asap yang lebih sempurna. Sirkulasi udara yang baik akan menjaga suhu dan kelembaban ruang pengasapan tetap konstan selama proses pengasapan berlangsung.  Selain itu, aliran asap akan berjalan dengan lancar dan kontinu, sehingga partikel asap yang menempel pada tubuh akan menjadi lebih banyak dan merata. Jadi pada tahap pengasapan, kecepatan penguapan air tergantung pada kapasitas pengering udara dan asap juga kecepatan pengaliran asap.  Pada tahap kedua, di mana permukaan ikan sudah agak kering, suhu ikan akan mendekati suhu  udara  dan  asap.



BAB IV
PENUTUP


4.1 Kesimpulan
Pengasapan ikan adalah salah satu cara mengolah dan mengawetkan ikan yang cukup popular di Indonesia. Cara ini dapat dijumpai di berbagai daerah, namun jumlahnya tidak sebanyak produk pengasinan atau pengeringan.
Dalam proses pengasapan ikan pada prinsipnya terdapat beberapa   proses yaitu: Perlakuan pendahuluan, Penggaraman, Pengeringan, Penataan, Pengasapan, Pendinginan dan Pengemasan. Pengasapan  ikan dapat  dilakukan  dengan  menggunakan   asa yang  berasal   dari   hasil   pembakaran   arang  kay atau tempurung kelapa, sabut, serbuk gergaji atau sekam padi.
Tingkat    keberhasilan    proses    pengasapan    ikan tergantung pada empat faktor utama (selain bahan baku) yang saling berkaitan, yaitu: mutu dan volume asap; suhu dan kelembaban ruang pengasapan;suhu dan lama pengasapan serta sirkulasi udara dalam ruang pengasapan.

4.2 Saran
  Ada beberapa hal yang menjadi saran dalam setiap proses pengolahan yaitu penggunaan suhu harus sesuai dengan bahan yang digunakan, agar menghasilkan ikan asap yang bermutu.











DAFTAR PUSTAKA

Anonim1. 2007. http://bisnisukm.com/teknologi-pengawetan-ikan.html. Diakses pada Mei 2011.


Heruwati, Endang S. 2002. Pengolahan Ikan Secara Tradisonal: Prospek dan Peluang Pengembangan. Jurnal Litbang Pertanian, 21(3) Tahun 2002. Jakarta.

Murniyati, A.S. 2000. Pendinginan, Pembekuan, dan Pengawetan Ikan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Rasco,  B.  2009.  Smoking Fish  at  Home  Safly. A  Pacific Northwest Extension Publication. Washington State University.

Susanto, Heru. 2006. Budi Daya Ikan di Pekarangan (Revisi). Penebar Swadaya. Jakarta.

Sveinsdottir, K. 1998. The process of fish smoking and quality evaluation. Unpublished MSc Dessertation. University of Denmark


Tio,D.M dan Nur,S.A. 2011. Pengawetan Ikan Bawal Dengan pengasapan dan pemanggangan. Jurnal .UGM 

No comments:

Post a Comment